Sertifikasi Organik dan Fair Trade

Senin, 14 November kemarin, saya sebagai salah satu anggota Koperasi Tani Bali Jagadhita (KTBJ) menghadiri seminar dan workshop dengan judul Organic and Fair Trade Certification. Seminar ini diadakan oleh KTBJ bekerja sama dengan Bank Indonesia, karena itu Seminar dapat dilangsukan di Ruang Pertemuan Tirta Empul Gedung Bank Indonesia Bali. Peserta seminar kecil ini sangat terbatas, hanya dihadiri oleh beberapa anggota KTBJ dan anggota kelompok tani yang berada di bawah bimbingan Bank Indonesia.

Yang hadir menjadi pembicara dalam seminar ini adalah Bapak Indro Surono, seorang tokoh dan pakar pertanian yang telah lama malang melintang di dunia pertanian Indonesia. Beliau juga merupakan salah satu dari sedikit auditor dan trainer dari IMO / Ecocert di Asia Tenggara. IMO yang menjadi bagian dari Ecocert merupakan lembaga sertifikasi internasional yang diakui di dunia.

Menarik mengikuti seminar tersebut meskipun saya bukan berasal dari latar belakang pertanian. Karena memang ada cita-cita saya untuk menjadikan sektor tersebut sebagai salah satu sumber penghasilan di masa depan. Selain sudah dibekali warisan tanah produktif oleh orang tua, menurut saya pertanian merupakan sektor usaha yang ‘baik’, karena berkaitan erat dengan menjaga bumi dan lingkungan.

Pasa seminar tersebut, wawasan saya banyak terbuka mengenai pertanian organik dan sertifikasinya. Sebelumnya pengetahuan saya tentang produk organik hanya sebatas label di produk-produk di supermarket yang nilainya lebih mahal dibandingkan yang tidak berlabel itu. Sekarang saya jadi tahu mengapa. Definisi pertanian organik menurut badan pertanian Amerika Serikat adalah sistem pertanian tanpa asupan sintetis, mengutamakan rotasi tanaman, pemanfaatan limbah organik, kotoran ternak, limbah organik non pertanian, pemakaian bahan mineral alami dan optimalisasi nutrisi sistem biologis dan perlindungan tanaman. Sedangkan menurut IFOAM Uni Eropa, pertanian organik adalah sistem produksi yang berkelanjutan untuk kesehatan tanah ekosistem dan manusia. Pertanian Organik mendasarkan pada proses ekologis, keragaman hayati, dan siklus yang sesuai dengan kondisi lokal, dibandingkan memakai asupan yang berdampak luas. Pertanian Organik mengombinasikan tradisi, inovasi, dan ilmu pengetahuan guna memberi manfaat bagi lingkungan dan mendukung hubungan yang adil serta kualitas hidup lebih baik bagi seluruh makhluk hidup.

Jadi pertanian organik sejalan dengan kampanye back to nature, go green, dll, yang intinya mengurangi dan meniadakan peran bahan kimia sintetis. Secara sederhana produk organik identik dengan produk yang lebih sehat. Dengan meningkatnya kesadaran manusia untuk mencari sumber pangan yang lebih sehat, meningkat pula permintaan pasar akan produk organik. Terutama di negara yang masyarakatnya maju. Terbukti, pasar terbesar untuk produk organik adalah Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang. Itulah mengapa harga produk organik lebih tinggi daripada produk non organik.

Lalu bagaimana konsumen bisa percaya suatu produk apakah benar-benar organik atau tidak? Disinilah masuk peran sertifikasi organik. Sertifikat organik merupakan bukti bahwa sebuah pertanian benar-benar menerapkan pola penanaman dan atau pengolahan secara organik. Lalu bagaimana cara mendapatkan sertifikat organik? Muncul peran lembaga sertifikasi organik (LSO) yaitu lembaga yang secara khusus diakreditasi oleh KAN (Komite Akreditasi Nasional) untuk bisa menerbitkan sertifikasi organik bagi para petani organik.

Jadi label organik pada suatu produk tidak boleh secara sembarangan diletakkan pada kemasan produk tanpa menyertakan sertifikat organik dari suatu LSO. Di Indonesia sendiri sudah ada 7 LSO yang bisa mengeluarkan sertifikasi organik sesuai standar nasional (SNI).

Apabila saya sudah mengantongi sertifikat organik apakah saya sudah bisa mencantumkan label organik di produk saya? Bisa dan tidak. Tergantung dimana Anda menjual produk Anda. Bisa di dalam negeri, tapi tidak di luar negeri. Karena standar organik di masing-masing negara berbeda-beda. Sudah memenuhi standar organik SNI belum tentu memenuhi standar organik internasional seperti Eropa, Amerika, atau Jepang. Kalau hasil pertanian Anda sudah mencapai skala ekspor ke negara lain, Anda perlu melirik LSO internasional untuk mengeluarkan sertifikat organik sesuai negara tujuan Anda.

Disinilah IMO dari Ecocert yang diwakili Pak Indro berperan. Sebagai salah satu perusahaan internasional yang bisa memberikan sertifikasi organik Ecocert menawarkan jasa sertifikasi organik (dan standar lainnya) yang sesuai standar Eropa, Amerika, Jepang, atau ketiganya atau banyak negara sekaligus. Tentunya dengan tebusan cost yang tidak sedikit karena kita sudah bicara skala internasional. Disinilah terjadi pro dan kontra di kalangan petani dan pemerhati pertanian tentang sikap dan tanggapan para petani Indonesia seharusnya terhadap sertifikasi internasional.

Saya tidak tahu banyak tentang yang kontra, tapi setidaknya saya pernah dengar, bahwa keengganan petani mengusahakan sertifikasi organik internasional adalah karena anggapan membayar mahal secara rutin (umur sertifikat organik internasional adalah satu tahun) ke pihak asing hanya demi berjualan disana. “Kalau mereka yang butuh, mereka dong yang membayar kita” Mungkin kira-kira seperti itu. Ada juga argumen bahwa sertifikasi dari LSO nasional sudah lebih dari cukup bagi mereka untuk pengakuan bahwa mereka bertani secara organik.

Saya sebagai yang sangat awam di dunia pertanian tidak bisa bicara banyak sebenarnya. Karena memang belum terjun ke dunia pertanian. Tapi seandainya saya menjadi petani organik, saya kemungkinan akan berpikir begini. Sertifikasi organik, perlu atau tidak? Perlu. Rugi rasanya kalau bertani secara organik tapi hasilnya dijual di harga produk non organik (kecuali kalau saya bertani hanya untuk hobi, yang mana untung rugi finansial tidak terlalu diperhitungkan). Sertifikasi organik lokal atau internasional? Tergantung pasar saya sih. Kalau ingin jualan di luar negeri, ya mau tidak mau harus ikut standar luar negeri lah. Memberikan uang banyak ke lembaga asing setiap tahun? Tidak masalah, toh saya juga akan mendapat lebih banyak uang dari orang asing yang membeli barang saya disana.

Begitu mungkin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *